Sirah tokoh

Romantika Yusuf AS

Imraatul Aziz yang dibakar nafsu menyusun rencana keji kepada Yusuf muda. Ia pun menutup pintu-pintu di dalam rumahnya hingga hanya menyisakan dirinya dan Yusuf berdua. Tidak ada yang melihat mereka kecuali Allah. Seorang perempuan cantik dan lelaki tampan di dalam sebuah ruang tertutup. Syaitan semakin membakar birahi wanita muda itu.

“Wa qalaat haitaa lak… Marilah ke mari, aku bersedia untukmu". !” ajak Imraatul Aziz kepada Yusuf (Yusuf: 23)

Beginilah yang di rakamkan Al-quran.Ajakan yang bukan sekadar memanggil untuk mendekat.Namun, ‘haita lak’ merupakan nada panggilan manja penuh berahi,yang lazim di lafazkan oleh wanita Arab kepada suami mereka,untuk mengajak bersama.Dalam konteks ini,kita melihat betapa Imraatul Aziz itu,begitu berahi memberi isyarat kepada Yusuf untuk melakukan perbuatan keji, persetubuhan, perzinaan. Ini merupakan puncak keganasan syaitan di dalam diri Imraatul Aziz. Selama ini pun ia telah berusaha untuk menundukkan Yusuf agar mau menjamahnya. Ia menggunakan ajakan dan rayuan yang halus. Namun, hari ini ia menggunakan cara yang kasar dan terang-terangan agar Yusuf mau menjadi budak nafsunya. Yusuf pun menolak dengan menjawab "Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu) sesungguhnya Tuhanku telah memeliharaku dengan sebaik-baiknya sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan berjaya".

Di sini Imraatul Aziz bermaksud untuk mengajak Yusuf untuk menjamahnya. Dan Yusuf pun sebagai seorang lelaki muda sempat terbesit dalam pikirannya untuk menerima ajakan syaitan berwujud perempuan manis di depannya itu

“Sesungguhnya,” kata Allah dalam Surat Yusuf ayat 24, “Perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya…”

“Nafsunya (Yusuf),” kata Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf, “Juga mempunyai kecenderungan dan memiliki ketertarikan kepadanya sebagai hasrat orang muda yang mirip dengan kemahuan dan keinginan terhadapnya, sebagaimana hal ini adakalanya tergambar dalam kondisi dimana yang bersangkutan hilang akalnya.”

“Akan tetapi,” lanjutnya menjelaskan, “Yusuf mematahkan dan menolak hal ini dengan melihat keterangan Tuhannya yang ditetapkan terhadap orang-orang mukallaf, bahwa mereka diwajibkan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Kalau bukan karena kecenderungan yang kuat yang disebut dengan hamm (kehendak), niscaya yang bersangkutan tidak akan dipuji oleh Allah ketika menjauhinya.”

Kita berhenti sejenak dari kisah ini.Mari kita meneguk keindahan pesan Ilaahi yang bisa kita perolehi dari kisah inspiratif ini.Pesan buat diri saya,dan kita semua.

Pertamanya,kita belajar dari Imraatul Aziz.Betapa,dalam kondisi syahwat sebegitu,dia masih mempunyai rasa malu tika di kuasai nafsu untuk berbuat dosa.Sehinggakan,ada tafsir yang menyebut bahawa,lantaran masih ada sikap malu wanita ini saat di puncak gejolak nafsunya,maka Allah tidak merakamkan namanya secara langsung dalam Quran.Seperti inilah,kita belajar dari mafhum sabda Baginda Nabi,bahawa tatkala kita menutup aib seorang Muslim,atau masih punya rasa malu tika melakukan dosa-dosa,tanpa punya rasa bangga sezarah pun akan dosa-dosa itu,kelak Allah SWT kan menutupi segala aib kita.Sungguh,Dialah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di sinilah pesan penting kepada kita.Betapa jauhnya para remaja kita dari petunjuk Ilaahi.Para remaja yang begitu bangga merakamkan adegan ghairah mereka,kemudian meng’upload’nya pada facebook.Adik-adik remaja perempuan yang memaparkan gambar-gambar dengan posing yang begitu mengujakan nafsu dan menguji iman para lelaki.Tanpa sedar,gambar itu menjadi ajakan zina yang semakin mendekati nada waqaalat haita lak..

Wahai para wanita,pagarilah dirimu dengan sifat malu.Usahlah terus menggoda iman dan mengujakan nafsu para lelaki dengan gambar dirimu yang begitu terdedah.Sedarilah,bahawa saat nafsunya lelaki merajai diri,maka dirinya akan berubah menjadi seperti seekor serigala buas yang akan menerkam buruannya pada bila-bila masa.

Keduanya,kita belajar dari Nabi Yusuf A.S.Seorang pemuda tampan,yang menjadi igauan seluruh wanita Mesir.Betapa,beliau juga seorang lelaki yang punya kecenderungan dan ketertarikan terhadap lawan jenis.Namun,Subhanallah,lantaran kekuatan Iman yang tertancap dalam hatinya,sedang dalam keadaan penuh godaan itu,lantas beliau mengucapkan“ma'aza Allah..Aku berlindung dan berpegang pada pada Allah”. Subhnallah..jiwa yang terus saja tersentak untuk mengingati Allah,saat di puncak godaan..Ia adalah hasil dari didikan ruhiyah yang berterusan,yang melahirkan sentakan-sentakan iman.

Kita telusuri kisah Yusuf AS sejak dari kecil.Beliau adalah seorang anaknya Nabi Yaaqub AS.Seorang anak yang membesar dengan didikan iman sejak kecil. Dari sinilah kita belajar.Bagaimana berleluasanya masalah sosial hari ini,adalah punca utamanya kerna kurangnya didikan-didikan Iman sejak kecil pada jiwa generasi kini.Para ibu-bapa yang begitu tersibukkan untuk memenuhi kebutuhan materi,sehingga tanpa sedar meninggalkan lompong yang sangat besar pada sisi ruhani anak-anak.Sehingga anak-anak itu membesar,tanpa keImanan pada Allah yang menancap dalam hati.Anak-anak kecil ini,di sajikan dengan program hiburan melampau.Di pertontonkan adegan tari menari,adegan romantis di televisyen,membaca novel-novel cinta remaja.Di perdengarkan dengan lagu-lagu yang memuja dan memuji berahi,nafsu (dengarkan saja lagu Justin Bieber,dll).Sehingga,potensi fitrah yang di bekali Allah sejak lahirnya,kian tercemari dan ternodai.Sehingga,tatkala datangnya kepada mereka dengan godaan-godaan yang begitu banyak, terdedahnya mereka dengan pergaulan bebas di luar dan secara online.Lantaran,tiada didikan iman sejak kecil,hatinya langsung tidak melahirkan sentakan-sentakan iman.Perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat itu pun di lakukakan tanpa ada rasa segan,lalu perlahan-lahan mencampakkan diri mereka ke dalam kebinasaan.Dengarlah wahai para ibu-bapa.Lihatlah,betapa besarnya peran ibu-bapa dalam melahirkan rumah tangga yang membajai jiwa anak-anak kecil penuh fitrah dengan iman dan taqwa.Inilah rahsia kejayaan dunia akhirat.Anak-anak inilah yang kan menjadi hartamu yang paling bernilai di sisi Allah kelak.Kereta mewah,mahligai,dan wang ringgit yang di kumpul tidak akan memanfaatkan sedikit pun di hadapan Allah,melainkan mereka yang menginfaqkannya.Sebaliknya,anak-anak yang di bajai dengan iman dan taqwa sejak kecil inilah,yang akan tumbuh membesar menjadi para pemuda yang sentiasa mengucapkan “ Inni ma'adza Allah…sesungguhnya aku berlindung dan berpegang teguh pada Allah”

Ketiganya,dan terpaling penting,adalah pelajaran untuk diri saya sendiri dan para lelaki.Bayangkan keadaan Nabi Yusuf AS,dan bandingkan dengan diri kita.Beliau berada dalam sebuah bilik mewah,dengan pintu-pintu terus terkunci.Lalu,di hadapan matanya,terbaring indah seorang wanita penuh jelita,penuh menggoda.Dengan nada penuh ghairah,dan dalam bilik yang cukup rapat terkunci,tanpa seorang pun yang melihat.Namun,dengan penuh tegas,kalimah “inni maa’za Allah” itu di lafazkan. Tidak cukup dengan itu,baginda terusberpaling dan berlari dari wanita jelita yang menggodanya itu.Terus,godaan terhadap jejaka tampan ini berterusan. Dalam Quran merakamkan babak-babak ajaib ini.Ketika para perempuan itu telah memegang pisau masing-masing, Imraatul Aziz menyuruh Yusuf menampakkan diri. Semua perempuan kota itu terpana dengan sesosok manusia tampan di hadapan mereka. Bahkan mereka mengira bahwa ia adalah malaikat yang mulia (Yusuf 31). Keterpanaan mereka pada keelokan wajah pemuda Yusuf itu telah mengacaukan sensor syaraf dan koordinasi otot mereka hingga mereka masing-masing memotong jari mereka sendiri tanpa merasa kesakitan. Menurut Zaid bin Aslam, perempuan-perempuan itu tergila-gila kepada Yusuf, tidak sadar, dan kehilangan akal karena pemandangan yang mereka lihat.Lihatlah,bagaimana para wanita kota berkehendak ke atas dirinya.Sehinggakan,para wanita itu melebihkan dirinya di atas malaikat,lantaran ketampanannya.Namun,Subhanallah,hal itu tidak sedikit pun menerbitkan rasa senang atau bahagia dalam diri Baginda.Sebaliknya,lantaran rasa cintanya yang mendalam pada Allah SWT,Nabi Yusuf AS,lebih memilih penjara,dari semua godaan itu.Subhanallah..

Dia (Yusuf) berkata: “Rabbi (wahai Tuhanku)! Penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepada (melakukan)nya. Dan jika tidaklah Engkau (Allah) palingkan daripadaku tipu daya mereka, nescaya rebahlah aku kepada mereka dan jadilah aku termasuk orang yang jahil.” (Yusuf :33)

MasyaAllah.Dari Yusuf AS,kita belajar.Peristiwa yang dirakamkan Al-Quran ini kan terus berulang,dan terus berulang.Para pemuda yang merupakan warisnya Nabi Yusuf As,kan terus di datangi ujian yang sebegini juga.Dalam bilik yang terkunci,dengan paparan monitor yang sedia menanti,hanya tinggal menaip kata kunci,lantas akan muncullah ribuan,bahkan jutaan Imraatul Aziz di hadapan pupuk sepasang mata yang di kurniai Ilaahi.Saat berseorangan melayari internet dan saat menonton video,betapa  begitu banyak para pemuda terus terkalahkan dek nafsu serakah yang bermaharajalela.Jiwa yang tidak terdidik dengan iman,hati yang tidak tertancap dengan Taqwa kan begitu mudah tertewaskan.Jiwa yang begitu terobsesi secara fisik pada wanita jelita di dalam ‘kotak bercahaya’ dan di luar rumahnya. Dorongan birahi dan libido yang begitu menggebu seakan telah memutus urat malunya,mematikan kewarasan akalnya.

Allahu Akbar.Di sinilah,ruh dan semangatnya Yusuf AS,harus sentiasa kita kumandangkan dan kita tanamkan dalam diri kita,jiwa para pemuda.Terus berusaha untuk mendidik diri dengan Iman dan ketaqwaan kepada Allah,agar hati dan jasad kita kan senantiasa merasakan pengawasan,pemerhatian,Rahmat,murka,dan kasih sayang Allah SWT.Agar dalam perjalanan-perjalanan hidup kita,saat kita tersasar,hati kita kan melahirkan sentakan-sentakan Iman.Sentakan-sentakan Iman yang kan meruntunkan hati dan jiwa kita yang penuh berdosa untuk merintih dan merayu ampunan dan kasih sayang pada Allah.Berteleku di sepertiga malam,bermunajat penuh harap,semoga ada ampunan buat kita,para pemuda.

Tidak cukup dengan isak tangis,bangkitlah para pemuda.Berpalinglah dari kejahiliahan dan sumber kemaksiaatan itu.Dan,terus berlarilah menuju Rahmat dan kasih sayang Allah.Usah berlengah.Kerna,pemuda yang di penuhi masa kosong,kan di hinggapi dengan potensi kemaksiatan.Beginilah,rumusnya yang di tuturkan oleh Syeikh Aidh Al-AlQarni.Saat diri kita sedang di goda,atau Iman kita yang sedang melemah,maka bangkitlah,berpaling dan berlarilah.Penuhkanlah aktiviti kita dengan amal soleh penuh keikhlasan.Kerna,keikhlasan itulah kuncinya kita untuk di selamatkan dari godaan-godaan yang mendatang.

“Demikianlah, kerana Kami (Allah) hendak selamatkan dia (Yusuf) daripada kejahatan dan kekotoran. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami (Allah) yang mukhlasin (ikhlas)”. (Yusuf:24)

Dan pasti, dalam kembara untuk menuju Ilaahi..di hadapan kita kan menanti jutaan rintangan.Akan senantiasa ada ujian demi ujian dari Allah SWt. Agar, dengan ujian itu,Allah SWT inginkan melayakkan kita untuk memasuki Syurganya yang penuh kenikmatan,dan berdampingan dengan Rasulullah Sholla Allahu A’laihi Wassalam yang mulia.

Maka,saat godaan itu terus mendatang,bernuansa dari peribadi hebat Nabi Yusuf AS, jadilah para pemuda yang mengumandangkan “Robbi,berikanlah daku kekuatan untuk memenjarakan nafsuku,kerna sungguh,penjara itu lebih aku sukai,dari godaan-godaan Syaitan itu.Robbi,bantulah daku untuk memenjarakan nafsuku,kerna sungguh,jika tidak Engkau palingkan diriku dari seluruh godaan ini, nescaya rebahlah aku,dan jadilah aku termasuk orang yang jahil “


SAIYIDINA ABU BAKAR AS-SIDDIQ R.A.
 
Nama Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah tidak asing lagi bagi sekelian ummat Islam, baik dahulu mahupun sekarang. Dialah manusia yang dianggap paling teragung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah S.A.W. Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat, ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika berkuasa serta tuturbahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya balk dahulu mahupun sekarang. Dialah tokoh sahabat terbilang yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah S.A.W.
Nama sebenar Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah Abdullah Bin Qahafah. Sebelum Islam, beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya serta datangnya dan keluarga bangsawan yang sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam lagi, Abu Bakar telah terkenal sebagai seorang pembesar Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah minum arak sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh pembesar-pembesar Quraisy yang lain.
Dan segi umur, Saiyidina Abu Bakar R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah S.A.W. dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang dianggap paling banyak sekali berkorban harta benda untuk menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W. Kerana besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah S.A.W. pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Saiyidina Abu Bakar R.A. Adapun gelaran Al-Siddiq yang diberikan kepadanya itu adalah kerana sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud yang dicenitakan sendiri kepadanya oleh Saiyidina Abu Bakar, tentang bagaimana Saiyidina Abu Bakar R.A. memeluk agama Islam.
Kata Saiyidina Abu Bakar R.A. ketika menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak munid. Dia berkata kepadaku:
"Aku kira tuan datang dan Tanah Haram.
"Benar, jawabku.
"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?
"Benar, ujarku lagi.
"Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?
"Benarlah begitu, tambahku selanjutnya.
Orang tua itu terus menyambung, katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?
Maka pada ketika itu aku pun berkata, "Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.
Maka ujar orang tua itu, "Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separoh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan. Sementara yang separoh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.
Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, "Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!
Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, "Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?
"Boleh sahaja, jawabku.
Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, "Apakah yang terjadi itu?
Jawab mereka, "Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.
Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dan kepercayaan nenek moyang kita.
Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!
Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa buktinya?
Jawabnya, "Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.
Aku menambah lagi, "Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?
Baginda menyambung, "Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!
Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?
Maka ujar baginda, "Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.
Akhirnya aku benkata, "Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.
Demikianlah kisah indah yang meniwayatkan bagaimana Islamnya Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki yang pertama yang beriman kepada Rasulullah S.A.W.
Keislaman Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq R.A. telah membawa penganuh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda   bangsawan Quraisy seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Saiyidina Abu Bakan R.A. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W. Sebagai memperlihatkan kecintaan baginda terhadap Saiyidina Abu Bakar R.A., dapat kita ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat Rasulullah S.A.W. pernah suatu han menanyakan Rasul, "Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayangi? Baginda menjawab, "Siti Aisyah, dan kalau laki-laki adalah bapanya.
Selain danipada itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seonang sahabat yang terkenal kerana keteguhan imannya, cendas akal, tinggi akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W. pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, "Jika ditimbang iman Abu Bakan Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakan. Demikian teguhnya iman Saiyidina Abu Bakan R.A. demi apakala kita memperhatikan pengertian yang terkandung pada sabda Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya itu. Gelaran AlSiddiq yang dibenikan orang terhadap diri Saiyidina Abu Bakan R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya yang teguh dalam membenarkan serta membela din Rasulullah S.A.W. Andainya sekelian ummat manusia akan mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A. akan pasti pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.
Tidak beberapa lama setelah memeluk agama Islam, Saiyidma Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya itu telah meninggalkan perdagangannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan penjuangan menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad S.A.W. sehingga oleh kerana kegiatannya maka Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan itu. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah.
Tatkala Nabi Muhammad selesai melakukan Isra' dan Mikraj segolongan orang yang kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W. telah pergi menemui Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad S.A.W.  itu. Tujuan kedatangan mereka mendapatkan Abu Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka tentunya Abu Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan itu disampaikan kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun berkata, "Adakah Muhammad berkata begitu? Sahut mereka, "Benar! Maka ujar Saiyidina Abu Bakar R.A. "Jika Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu. Lalu mereka pun terus menyambung, "Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhammad sampai ke tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam semalam tadi? Maka sahut Abu Bakan sungguh-sungguh, "Benar! Aku percaya! Malah lebih dan itu aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita dan langit diberitakannya baik pada waktu slang mahupun di waktu malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling utama itu. Kerana tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang dibawa oleh Muhammad dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq, entinya yang benar.
Dan memanglah tidak menghairankan sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah kenal akan Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu benkata benar, tak pernah bohong; orang amin. Mustahil baginda akan khianat kepada pengikutnya yang pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya itu Pesunuh Allah Yang Maha Kuasa, menenima wahyu danipada Tuhannya. Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepada sahabatnya itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.
Tatkala keadaan kekejaman orang-orang musynikin Quraisy tenhadap kaum Muslimin yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di numah Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mencani jalan keluar danipada kesulitan yang sedang dihadapi oleh pihak kaum Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W. menjelaskan kepada Saiyidina Abu Bakan R.A. bahawa Allah S.W.T. telah memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke Madinah serta meminta Saiyidina Abu Bakar R.A. supaya menemaninya dalam peristiwa hijrah tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Saiyidina Abu Bakar R.A. menyambut penmintaan Rasulullah S.A.W.
Dari pintu belakang rumah Saiyidina Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W. bersama-sama Saiyidina Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi di gua yang dibeni nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat kritis, Saiyidina Abu Bakar R.A. diserang rasa kegelisahan dan cemas kerana khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang bensembunyi, maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah Taubah yang isinya memuji Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq, sebagai orang kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur. Dalam pada itu Rasulullah S.A.W. pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh kerananya Rasul benkata, "Apakah yang menggelisahkanmu, bukankah Allah menemani kita?
Kemudian Rasulullah S.A.W., diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan kebimbangan Saiyidina Abu Bakan, "Kiranya mereka masuk juga ke dalam gua ini kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu, ujar Rasul sambil menunjukkan ke belakang mereka. Saiyidina Abu Bakar R.A. pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di dalam gua itu bukanlah kerana takutkan nyawanya akan diragut oleh pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa baginda Rasul. Beliau pennah berkata, "Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang akan hancur ialah satu cita-cita yang suci murni. Yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tegak pula ialah kezaliman.
Ucapan antana dua orang sahabat tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al Quran dalam Surah Al Baqarah ayat 40: "Kalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, Di kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar): Jangan engkau berdukacita; sesungguhnya Tuhan bensama kita. Tuhan menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang yang kafir itu paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana.
Demikian satu lagi keistimewaan Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq sebagai seorang sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak bercerai jauh dengan baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan seluruh kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk kepentingan penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah tergolong onang yang paling murah hati dan dermawan sekali.
Dalam Perang Tabuk misalnya, Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Saiyidina Abu Bakan R.A. membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata kepadanya:
"Hal sahabatku yang budiman, kalau sudah semua hanta bendamu kau korbankan apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?
Pertanyaan Rasulullah S.A.W. itu dijawab oleh Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dengan tenang sambil tersenyum, ujarnya. "Saya tinggalkan buat mereka Allah dan RasulNya.
Demikianlah kehebatan jiwa Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya Agama Islam itu adalah lantaran hanta benda Siti Khadijah dan juga Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya iman seluruh ummat ditimbang bersama iman Saiyidina Abu Bakan R.A. maka berat lagi iman Saiyidina Abu Bakan R.A. Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya yang telah ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab Rasulullah s.a.w
Pada suatu ketika di saat Rasulullah membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan... Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu Saiyidina Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu, kenana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksud dalam isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Saiyidina Abu Bakar R.A. di- banding dengan para sahabat yang lain kerana beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir dekat.
Keunggulan beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di kala mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar Saiyidina Umar Al Khattab sendiri telah diselubungi kekacauan fikinan dan tampil ke muka umum sambil mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani mengatakan baginda telah wafat. Ujan Umar n.a., "Rasulullah tidak wafat, dia hanya pergi menghadap Allah sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian pulang semula kepada kaumnya setelah diheboh-hebohkan wafatnya.
Ketika kegawatan itu berlaku Saiyidina Abu Bakar sedang berada di suatu kampung Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Di sana beliau dapati ramai orang sedang benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al Khattab tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Saiyidina Abu Bakar terus ke rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau dapati mayat Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah dan mengucupkannya, sambil benkata, "Wahai, betapa cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika mati! Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada yang keras:
"Wahai kaum Muslimin! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati. Seraya menyambung membacakan sepotong ayat dan Al Qun'an:
"Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu berundur ke belakang. Sesiapa yang surut ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.
Sejurus sahaja mendengar ayat itu, Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah hingga barulah beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Kaum Muslimin tentunya telah pernah dengar ayat ini sebelumnya, kerana ayat itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami oleh Saiyidina Abu Bakar R.A. Ini jelas membuktikan kecerdasan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami Islam.
Ketika Rasulullah S.A.W. wafat, baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang siapa yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat Islam. Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin dengan suara ramai memilih Saiyidma Abu Bakan Al-Siddiq sebagai Khalifah setelah namanya itu dicalunkan oleh Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah tepat sekali kenana pada pandangan kaum Muslimin memang beliaulah yang paling layak sekali memegang kedudukan itu memandangkan kelebihan-kelebihannya dari para sahabat yang lain. Apatah lagi beliaulah yang pernah ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala baginda sedang uzur.
Setelah dipilih oleh sebahagian besar ummat ketika itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq pun memberikan ucapannya yang tenkenal yang antana lainnya baginda berkata:
"Wahai sekelian ummat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika pemenintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat pada sisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat di antara kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus mengambil hak orang lain yang berada di sisi nya, untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu sekelian tak harus lagi patuh kepadaku.
Aku dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. sungguh aku tidak dapat memperkenankannya, Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorangpun juga di antara kamu.
Ini adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh rakyat jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia barat dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi manifesto politiknya. Baginda hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan. Adalah diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang memanggilnya, "Ya Khalifah Allah! Baginda dengan segena memintas cakap orang itu dengan katanya:
"Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah RasulNya!
Adalah diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya iaitu sehari setelah baginda terpilih sebagai Khalifah, Saiyidina Abu Bakan R.A. kelihatan membawa barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu mendekati baginda, di antananya Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar itu mendekati baginda seraya berkata, "Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya, "Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku? Demikian sedihnya nasib yang menimpa Saiyidina Abu Bakar R.A. sebab walaupun kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi ketetapan untuk bagi seseorang kepala pemenintah Islam memperolehi gaji dari hanta kerajaan.
Keadaan ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan tunjangan secukupnya buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan usaha penniagaannya kerana hendak memusatkan selunuh tenaganya untuk mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam baginda hanya menerima penuntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun iaitu kira-kira lebih kurang 1,200 dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum wafatnya baginda telah memenintahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.
Kebijaksanaan Abu Bakar R.A. juga ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak dipisahkan oleh jurang-jurang perbezaan yang jauh agar tidak lahir satu golongan yang mendapat kedudukan yang lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain. Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar keperluan-keperluan asasi buat diri dan keluarganya.
Sebelum baginda wafat, kepada Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah mewasiatkan agar jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda pulang ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim bala tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang sedang bertempur di Iraq itu. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak lupa mengingatkan Saiyidma Umar R.A. apa yang dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah baginda yang suci itu tidak mengabaikannya dan melaksanakan kewajipan bianpun yang demikian itu amat berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:
"Denganlah hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahani terbit pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala hantuan kepada Al Muthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besannya dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah melihat apa yang telah ku lakukan tatkala Rasulullah wafat sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah mi telah jadi lautan api.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq yang memerintah hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan asas pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh dan kuat setelah berjaya mengatasi berbagai macam masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembaran-lembaran yang abadi.
Sungguh kehidupan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah penuh dengan ibarat, penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum Muslimin dan bagi memelihara keagungan Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri niwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian danpada negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid Madinah. Semoga niwayat serta penjuangan baginda menjadi contoh ibadat yang murni bagi sekelian kaum Muslimin. 

http://tayibah.com/eIslam/Tokoh/AbuBakar.htm
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...